Minggu, 10 Oktober 2010

Dedikasi Tiada Henti Penyapu Jalan

Assalamualaikum....

Selama bulan Ramadhan 1431 Hijriah, TVRI Lampung memiliki program baru bernama "Setetes Embun". Program ini mengetengahkan profil kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan para dermawan. Melalui program ini, kami mencoba mengetuk hati pemirsa TVRI Lampung untuk bersama sama meringankan beban kaum dhuafa, meskipun hanya "setetes embun" yang mungkin hanya datang sekali, namun memberikan kesegaran tak terhingga. Semoga..... 

Wassalamualaikum....

DEDIKASI TIADA HENTI PENYAPU JALAN

Siapa yang berjasa dalam menjaga kebersihan kota selain warga masyarakat yang notabene memang memiliki kewajiban menjaga kebersihan lingkungan masing-masing?
Mereka adalah para penyapu jalan, orang menyebutnya pasukan kuning. Pasukan kuning bertugas menyapu di sudut-sudut kota, merawat dan menjaga taman-taman serta penghijauan lahan yang kini luasnya semakin terbatas.

Diantara para penyapu jalan ini, Pak Hendrik adalah salah satunya. Pria berusia 48 tahun ini telah mengabdikan dirinya menjadi penyapu jalan selama hampir 20 tahun lamanya.Baju dan celana kuning, topi dan sepatu boot menjadi seragam kerjanya.  Tak lupa sebuah sapu lidi bergagang panjang menjadi senjatanya sebagai penyapu jalan. Setiap hari Pak Hendrik bekerja dari pukul lima pagi hingga tujuh pagi, kemudian dilanjutkan kembali pada sore hari. Tidak ada hari libur bagi para penyapu jalan. Panas dan hujan menjadi teman dalam kesehariannya. Pak Hendrik harus membiasakan diri menjadi sahabat bagi cuaca tidak bersahabat, karena jika sakit, maka pekerjaannya akan terganggu.

                    
Siang hari, kala pekerjaan telah selesai diselesaikan dan penat sudah terasa, Pak Hendrik kembali ke rumahnya.Rumah Geribik berlantai tanah itu tampak dihimpit bangunan besar di kanan kirinya. Rumah yang dibangunnya berkat kerja kerasnya menjadi penyapu jalan bertahun tahun lamanya ini berdiri diatas lahan milik orang lain. Awalnya lahan ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi alang-alang. Oleh pemilik lahan, Pak Hendrik diminta menjaga lahan ini dan diperkenankan membangun rumah diatasnya. Entah sampai kapan Pak Hendrik dan keluarganya boleh menempati lahan ini, entah sampai kapan, mereka dapat memiliki lahan sendiri tanpa didera perasaan khawatir sewaktu waktu terusir dari tempatnya bernaung selama ini. Tak cukup hanya mengandalkan penghasilan Pak Hendrik sebesar 450 ribu rupiah per bulan, sang istri, Ngatini pun turut banting tulang membantu perekonomian keluarga ini. Istrinya juga menjadi penyapu jalan sejak tahun 1997, kesempatan itu pun didapatnya karena menggantikan penyapu jalan lainnya yang mengundurkan diri.

Sepasang suami istri penyapu jalan ini memiliki 3 orang anak, si sulung, Firdaus telah lulus SMA, yang tengah Dwi Septian saat ini duduk di kelas 2 SMK, sementara si bungsu Agung Wijaya sudah tamat SMP. Pekerjaan orang tua mereka sebagai penyapu jalan tidak membuat mereka malu. Meskipun jauh di lubuk hati mereka, tidak berharap menjadi penyapu jalan seperti orang tua mereka.

Sebagai penyapu jalan, Pak Hendrik dan Bu Ngatini sudah terbiasa bergumul dengan sampah. Bagi kebanyakan orang sampah adalah barang tidak berguna. Namun bagi Pak Hendrik, sampah terutama sampah plastic adalah tambang penyambung kehidupan keluarganya. Sampah yang disapunya di jalan tidak hanya berupa daun daun kering namun juga sampah plastic seperti botol air mineral, plastic bekas kantung belanja,  dan plastic pembungkus makanan. Sampah plastic inilah yang dikumpulkannya setiap hari setiap selesai melaksanakan tugasnya sebagai penyapu jalan bersama sang istri. Sampah-sampah plastic itu kemudian dikumpulkan di halaman rumah geribiknya. Setelah 6 bulan lamanya, sampah-sampah plastic itu dijual 500 ribu sampai 600 ribu rupiah. Lumayan, uang itu bisa menjadi tambahan biaya sekolah anak.

Pekerjaan sebagai penyapu jalan, sebenarnya bukanlah pekerjaan yang dicita citakan Pak Hendrik. Rendahnya pendidikan dan keterbatasan keahlian yang dimilikinya membuat Pak Hendrik sulit mencari pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun pernah ia lakoni. Bahkan kesempatannya menjadi seorang mandor pun akhirnya kandas begitu saja karena tidak memiliki ijazah. Barulah ia menyadari bahwa pendidikan ternyata dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Maka, ia berharap anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan dan memiliki keahlian khusus yang dapat menopang hidupnya sendiri kala harus berusaha mandiri.

Dedikasi Pak Hendrik dan Bu Ngatini yang tinggi terhadap pekerjaannya meskipun hidup dalam keprihatinan dan kesederhanaan, menarik perhatian BK3S provinsi Lampung. Dipimpin ketuanya, Ibu Trully Sjachroedin ZP,  mereka mengunjungi rumah keluarga Pak hendrik. Kedatangan Ibu Trully dan pengurus BK3S Provinsi Lampung ini mengejutkan Pak Hendrik dan keluarga. Rasa terkejut bertambah kala menerima bantuan berupa bingkisan dan sejumlah uang yang diserahkan langsung oleh Ibu Trully.

                                           

Di ruang tamunya yang sempit, hanya ada satu tempat duduk dan meja reot ini, Ibu Trully berbincang-bincang dengan Bu Ngatini.

Menjadi penyapu jalan, mungkin akan menjadi pekerjaan Pak Hendrik seumur hidupnya. Dedikasinya mengalahkan rasa ketidakberdayaan perekonomian keluarganya. Tak ada alasan baginya untuk merengek dan mengemis mengharap bantuan. Namun kuasa Allah menjawab keikhlasannya menjalankan kewajibannya.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.// Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah  Ayat 274)

                                                                      

Sabtu, 09 Oktober 2010

Pertolongan Pertama untuk Anak Sawan

Assalamualaikum.....
Ini adalah tulisan pertama yang saya buat di blog saya
Tulisan ini saya kopi dari internet, bukan hasil pemikiran saya...:)
Saya lihat ini sangat bermanfaat untuk orang tua yang memiliki anak sedang sakit panas
Makanya saya mencoba untuk menyebarluaskannya....
Saya pernah mengalami panik luar biasa, saat anak bungsu saya baru berusia 1 bulan mengalami panas badan hingga gejala kejang....padahal menurut saya suhu tubuh anak saya tidak panas tinggi tapi ternyata berakibat fatal. Si bungsu terpaksa harus menginap di rumah sakit. Dan parahnya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan sebagai penanganan awal.....
Alhamdulillah, si bungsu sekarang tumbuh sehat dan lucu.....
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman....amin
Waalaikum salam....



Pertolongan Pertama untuk Anak Sawan
                     (Posted on Nov 25, 2009 11:38:46)

Anak yang mengalami kejang-kejang alias sawan sering dipercaya akibat kesurupan atau ada makhluk halus yang mengikuti si anak. Padahal sawan berhubungan dengan aliran eletrik di dalam tubuhnya. Bagaimana memberikan pertolongan pertama pada anak yang sawan?

Sawan atau serangan tiba-tiba biasanya disebabkan oleh pelepasan aliran elektrik secara tidak normal di dalam otak dan berakibat terjadinya guncangan pada anak. Tingkat keparahan dari sawan ini berkisar dari hentakan beberapa otot di bagian tubuh hingga guncangan seluruh badan (grand mal seizure).

Jika anak mengalami sawan yang parah biasanya menyebabkan anak jatuh dan menggeliat-geliat di lantai, bola mata bergerak ke atas, mulutnya berbusa, lidahnya tergigit serta anak kehilangan kesadaran beberapa waktu. Orangtua harus melakukan pertolongan agar lidah dan busa tidak menghalangi saluran udara yang membuat anak kekurangan oksigen.

Sebagian besar penyebab sawan adalah akibat demam tinggi yang dialami oleh anak-anak. Maka itu orangtua perlu waspada jika anaknya mengalami demam yang tinggi. Ada baiknya mengendalikan demam agar suhunya tidak melonjak tinggi.

Otak bayi yang belum sempurna bisa bereaksi terhadap fluktuasi temperatur yang mendadak terjadi dengan munculnya kejang-kejang (sawan). Kenaikan temperatur yang cepat menjadi pemicu sawan. Balita paling mudah mengalami sawan ketika tubuhnya tiba-tiba panas hingga mencapai 41 derajat celcius. Anak di atas usia 5 tahun biasanya lebih tahan dari serangan sawan.

Jika terjadi sawan pada anak beri pertolongan pertama dengan melakukan beberapa hal berikut seperti dikutip dari The Baby Book karangan William Sears dan Martha Sears, Selasa (24/11/2009):
  1. Membaringkan anak dengan aman di atas lantai dengan posisi telungkup atau miring, agar lidahnya menjulur ke depan dan lendir bisa mengalir keluar, sehingga tidak menghalangi masuknya oksigen ke dalam tubuh.
  2. Jangan memberikan makanan atau minum selama anak sawan.
  3. Jangan cemas jika bibir anak tidak berwarna biru dan anak masih bisa bernapas dengan normal.
  4. Bila bibir anak berubah menjadi biru atau sesak napas, berikan napas buatan dari mulut ke mulut setelah saluran udaranya dibersihkan.
  5. Singkirkan barang-barang yang berbahaya jika anak masih menggeliat-geliat di lantai.
  6. Jika panas anak tetap tinggi, bukalah bajunya dan gosokkan badannya dengan menggunakan handuk yang dingin untuk mengurangi temperatur yang meningkat secara tiba-tiba. Karena demam yang semakin parah bisa mengakibatkan lebih banyak serangan tiba-tiba.

Setelah sawan anak biasanya tenang kembali dan dapat tidur dengan nyenyak. Jika sawan terjadi akibat demam yang tinggi, maka perhatikan temperaturnya dengan seksama agar sawan tidak terulang kembali dan berilah obat penurun demam. Jagalah agar demam anak tetap terkendali dan segera ke rumah sakit jika demam tidak turun setelah beberapa jam.