Assalamualaikum....
Selama bulan Ramadhan 1431 Hijriah, TVRI Lampung memiliki program baru bernama "Setetes Embun". Program ini mengetengahkan profil kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan para dermawan. Melalui program ini, kami mencoba mengetuk hati pemirsa TVRI Lampung untuk bersama sama meringankan beban kaum dhuafa, meskipun hanya "setetes embun" yang mungkin hanya datang sekali, namun memberikan kesegaran tak terhingga. Semoga.....
Wassalamualaikum....
DEDIKASI TIADA HENTI PENYAPU JALAN
Siapa yang berjasa dalam menjaga kebersihan kota selain warga masyarakat yang notabene memang memiliki kewajiban menjaga kebersihan lingkungan masing-masing?
Mereka adalah para penyapu jalan, orang menyebutnya pasukan kuning. Pasukan kuning bertugas menyapu di sudut-sudut kota, merawat dan menjaga taman-taman serta penghijauan lahan yang kini luasnya semakin terbatas.
Diantara para penyapu jalan ini, Pak Hendrik adalah salah satunya. Pria berusia 48 tahun ini telah mengabdikan dirinya menjadi penyapu jalan selama hampir 20 tahun lamanya.Baju dan celana kuning, topi dan sepatu boot menjadi seragam kerjanya. Tak lupa sebuah sapu lidi bergagang panjang menjadi senjatanya sebagai penyapu jalan. Setiap hari Pak Hendrik bekerja dari pukul lima pagi hingga tujuh pagi, kemudian dilanjutkan kembali pada sore hari. Tidak ada hari libur bagi para penyapu jalan. Panas dan hujan menjadi teman dalam kesehariannya. Pak Hendrik harus membiasakan diri menjadi sahabat bagi cuaca tidak bersahabat, karena jika sakit, maka pekerjaannya akan terganggu.
Siang hari, kala pekerjaan telah selesai diselesaikan dan penat sudah terasa, Pak Hendrik kembali ke rumahnya.Rumah Geribik berlantai tanah itu tampak dihimpit bangunan besar di kanan kirinya. Rumah yang dibangunnya berkat kerja kerasnya menjadi penyapu jalan bertahun tahun lamanya ini berdiri diatas lahan milik orang lain. Awalnya lahan ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi alang-alang. Oleh pemilik lahan, Pak Hendrik diminta menjaga lahan ini dan diperkenankan membangun rumah diatasnya. Entah sampai kapan Pak Hendrik dan keluarganya boleh menempati lahan ini, entah sampai kapan, mereka dapat memiliki lahan sendiri tanpa didera perasaan khawatir sewaktu waktu terusir dari tempatnya bernaung selama ini. Tak cukup hanya mengandalkan penghasilan Pak Hendrik sebesar 450 ribu rupiah per bulan, sang istri, Ngatini pun turut banting tulang membantu perekonomian keluarga ini. Istrinya juga menjadi penyapu jalan sejak tahun 1997, kesempatan itu pun didapatnya karena menggantikan penyapu jalan lainnya yang mengundurkan diri.
Sepasang suami istri penyapu jalan ini memiliki 3 orang anak, si sulung, Firdaus telah lulus SMA, yang tengah Dwi Septian saat ini duduk di kelas 2 SMK, sementara si bungsu Agung Wijaya sudah tamat SMP. Pekerjaan orang tua mereka sebagai penyapu jalan tidak membuat mereka malu. Meskipun jauh di lubuk hati mereka, tidak berharap menjadi penyapu jalan seperti orang tua mereka.
Sebagai penyapu jalan, Pak Hendrik dan Bu Ngatini sudah terbiasa bergumul dengan sampah. Bagi kebanyakan orang sampah adalah barang tidak berguna. Namun bagi Pak Hendrik, sampah terutama sampah plastic adalah tambang penyambung kehidupan keluarganya. Sampah yang disapunya di jalan tidak hanya berupa daun daun kering namun juga sampah plastic seperti botol air mineral, plastic bekas kantung belanja, dan plastic pembungkus makanan. Sampah plastic inilah yang dikumpulkannya setiap hari setiap selesai melaksanakan tugasnya sebagai penyapu jalan bersama sang istri. Sampah-sampah plastic itu kemudian dikumpulkan di halaman rumah geribiknya. Setelah 6 bulan lamanya, sampah-sampah plastic itu dijual 500 ribu sampai 600 ribu rupiah. Lumayan, uang itu bisa menjadi tambahan biaya sekolah anak.
Pekerjaan sebagai penyapu jalan, sebenarnya bukanlah pekerjaan yang dicita citakan Pak Hendrik. Rendahnya pendidikan dan keterbatasan keahlian yang dimilikinya membuat Pak Hendrik sulit mencari pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun pernah ia lakoni. Bahkan kesempatannya menjadi seorang mandor pun akhirnya kandas begitu saja karena tidak memiliki ijazah. Barulah ia menyadari bahwa pendidikan ternyata dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Maka, ia berharap anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan dan memiliki keahlian khusus yang dapat menopang hidupnya sendiri kala harus berusaha mandiri.
Dedikasi Pak Hendrik dan Bu Ngatini yang tinggi terhadap pekerjaannya meskipun hidup dalam keprihatinan dan kesederhanaan, menarik perhatian BK3S provinsi Lampung. Dipimpin ketuanya, Ibu Trully Sjachroedin ZP, mereka mengunjungi rumah keluarga Pak hendrik. Kedatangan Ibu Trully dan pengurus BK3S Provinsi Lampung ini mengejutkan Pak Hendrik dan keluarga. Rasa terkejut bertambah kala menerima bantuan berupa bingkisan dan sejumlah uang yang diserahkan langsung oleh Ibu Trully.
Di ruang tamunya yang sempit, hanya ada satu tempat duduk dan meja reot ini, Ibu Trully berbincang-bincang dengan Bu Ngatini.
Menjadi penyapu jalan, mungkin akan menjadi pekerjaan Pak Hendrik seumur hidupnya. Dedikasinya mengalahkan rasa ketidakberdayaan perekonomian keluarganya. Tak ada alasan baginya untuk merengek dan mengemis mengharap bantuan. Namun kuasa Allah menjawab keikhlasannya menjalankan kewajibannya.
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.// Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah Ayat 274)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar